Tanda Kiamat Muncul di Kongo Gegara Mobil Listrik, Kok Bisa?

Ilustrasi Bendera Kongo. (Dok. Pexel)

Setelah penemuan mobil modern oleh Carl Benz pada 1886, sejak itulah dunia memulai “kiamat iklim”. Gas buang dari kendaraan bensin mengotori udara selama ratusan tahun. Tak terhitung berapa juta karbon dilepaskan kendaraan sejak penemuan tersebut.

Kini, sebagai upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat, mayoritas negara di dunia mendorong peralihan ke kendaraan listrik atau Electrical Vehicle (EV). EV dipercaya lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan gas buang berbahaya.

Berbagai program dijalankan untuk mencapai tujuan itu. Sebut salah satunya subsidi mobil listrik yang baru saja dilakukan pemerintah Indonesia di tanggal 20 Maret 2023 nanti.

Masalahnya, ketika produksi mobil listrik makin marak, disitulah terjadi bencana. Jovana Stanisljevic di The Conversation menyebut euforia menuju lingkungan nol emisi hanya dirayakan oleh negara maju saja.

Di negara Afrika itu tidak terjadi. Salah satunya di Republik Demokratik Kongo.

Perlu diketahui, Kongo adalah pemasok 70% kobalt dunia. Kobalt adalah komponen utama untuk baterai EV yang beratnya mencapai 4 kilogram.

Ironisnya, meski dianugerahi oleh harta karun melimpah negara tersebut menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Bahkan, tiap kali permintaan EV melonjak, negara tersebut justru memasuki “kiamat kecil”.

Hal ini disebabkan karena Kongo menjadi objek ‘rampokan’ negara-negara kaya. Dan masyarakatnya tertipu oleh perdagangan ini.

Mengutip Washington Post, di tiap pertambangan kobalt ada ratusan ribu pekerja non-formal yang bekerja di sana. Hal ini disebabkan karena mereka terjerat dalam kemiskinan dan penambangan adalah mata pencaharian yang bisa didapat.

UNICEF memperkirakan ada lebih dari 40.000 anak yang bekerja di pertambangan untuk menggali tanah, mengangkut muatan berat, atau mencuci kobalt yang ditambang di sungai.  Parahnya lagi selama bekerja mereka, baik pekerja dewasa atau anak-anak, tidak didukung peralatan modern dan peralatan pelindung.

Akibatnya mereka harus berhadapan langsung dengan marabahaya, seperti kecelakaan kerja atau gangguan pernapasan. Sudah tak terhitung berapa banyak yang meninggal.

Mengutip laman Down to Earth, Siddharth Kara, profesor dari Britisch Academy, memperkirakan ada 2.000 penambang illegal meninggal di Kongo setiap tahunnya. Kebanyakan mereka meninggal karena gangguan pernapasan, infeksi kulit, dan kecelakaan kerja.

Tak hanya itu, penambangan bertahun-tahun juga berdampak pada lingkungan. Limbah yang tidak diolah menghasilkan zat beracun yang mencemari area di dekat tambang, sehingga memperburuk masalah kesehatan penduduk. Belum lagi mempersoalkan besarnya tingkat radio aktif di beberapa tambang.

Hasil penambangan berdarah itu diolah lagi dan menjadi baterai yang tertanam di Tesla, Volvo, Renault, Mercedez-Benz, dan Volkswagen. Seluruh pabrikan tersebut menari di atas penderitaan orang-orang Kongo.

Ketika mereka tertimpa durian runtuh akibat peningkatan penjualan EV, maka di Kongo rakyatnya sengsara. Lebih dari itu, alih-alih mandi uang dan hidup mapan, penambangan Kobalt malah mendatangkan penderitaan berupa kolonialisme dan konflik bersenjata.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*