Rahasia Terbesar Google dan Facebook Diungkap Mantan Pegawai

Demonstran selama unjuk rasa Serikat Pekerja Alfabet di New York, AS, pada Kamis, 2 Februari 2023. Protes terkait dengan PHK Google baru-baru ini yang menyebabkan 12.000 karyawan kehilangan pekerjaan. (Victor J. Blue/Bloomberg via Getty Images)

Seorang software engineer mantan pegawai Google buka-bukaan soal rahasia terbesar perusahaan teknologi raksasa seperti Facebook dan Google. Perusahaan Silicon Valley tersebut ternyata tak bisa mengendalikan teknologi yang mereka bangun.

Raksasa teknologi kerap disebut sebagai pengontrol kehidupan manusia. Melalui algoritme yang mereka kembangkan, warganet disuguhkan beragam iklan dan konten yang katanya ‘sesuai selera’ masing-masing.

Mantan engineer Google dan Microsoft, David Auerbach, dalam sebuah wawancara, mengatakan banyak orang menyalahkan raksasa teknologi karena membuat hidup lebih sengsara. Misalnya saja media sosial yang dituduh membuat orang kecanduan, konsumtif, dan memicu rasa iri-dengki satu sama lain.

Padahal, menurut Auerbach, raksasa teknologi tak punya kontrol sebesar itu untuk mengatur bagaimana teknologinya berkembang dan memengaruhi kehidupan manusia.

“Ada sebuah memo internal Facebook yang bocor. Dalam memo itu, tertulis bahwa Facebook tidak mau orang-orang tahu bahwa mereka tak punya kontrol atas sistem yang mereka buat,” kata dia.

Menurut dia, algoritme pada media sosial dan semua layanan teknologi dikendalikan oleh sistem. Sistem terbentuk dan membentuk orang-orang yang menggunakannya. Pemerintah maupun raksasa teknologi tak bisa mengontrol algoritme.

“Raksasa teknologi lebih memilih disebut evil (jahat), ketimbang orang tahu fakta sebenarnya bahwa mereka tak punya kontrol atas teknologi yang diciptakan,” ia menambahkan.

Jika algoritme kemudian membuat hidup manusia sengsara, ada yang salah dari sistem yang dibentuk oleh manusia itu sendiri.

“Efek sistem algoritme saat ini berkontribusi pada perpecahan masyarakat, di mana kita semua tidak bisa memahami satu sama lain. Kita semua terpecah menjadi kelompok-kelompok yang punya kebulatan suara dan keseragaman, sehingga mencegah adanya konsensus masyarakat berskala besar,” ia menjelaskan, dikutip dari Guardian, Senin (13/3/2023).

Kesadaran Auerbach soal algoritme teknologi yang menghancurkan ini dimulai saat media sosial menjadi populer. Ia melihat bagaimana manusia bereaksi terhadap algoritma dan sebaliknya algoritme bereaksi terhadap manusia.

Hubungan timbal balik itu bergulir terus dan dampaknya makin buruk. “Butuh waktu bagi saya untuk sadar bahwa kita semua tak punya kontrol pada sistem, dan bahkan para pencipta sistem ini punya kontrol yang sangat kecil dibandingkan yang kita bayangkan,” ia menerangkan.

Sistem algoritme yang menjadi besar di media sosial kemudian dijadikan tulang punggung untuk semua teknologi yang ada saat ini, mulai dari mata uang kripto hingga Metaverse dan penerapan AI lebih lanjut.

Auerbach diketahui baru saja merampungkan bukunya Meganets: How Digital Forms Beyond Our Control Commander Our Daily Lives and Inner Reality. Dalam kesempatan itu, dia juga mencoba mendefinisikan meganet.

Meganet merupakan jaringan data yang berkembang terus dan arahnya menjadi buram, namun punya kekuatan besar untuk mempengaruhi cara umat manusia melihat dunia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*