Ekspor Konsetrat Terancam Disetop RI, Ini Kata Bos Freeport

Dirut Freeport Tony Wenas dan CEO Freeport McMoRan Richard Adkerson di Istana Negara, Rabu (12/4/2023). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Freeport McMoRan, pemegang 48,76% saham PT Freeport Indonesia, mengungkapkan bahwa Freeport Indonesia tengah berdiskusi dengan Pemerintah Indonesia untuk kelanjutan ekspor konsentrat tembaga setelah Juni 2023.

Seperti diketahui, berdasarkan amanat Undang-Undang No.3 tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (UU Minerba), Pemerintah Indonesia mulai menghentikan ekspor komoditas mineral mentah, termasuk konsentrat tembaga pada 10 Juni 2023 mendatang.

CEO Freeport McMoRan, Richard Adkerson menyebut, pihaknya tengah berdiskusi dengan Pemerintah Indonesia untuk memperoleh persetujuan kelanjutan ekspor konsentrat tembaga setelah 10 Juni 2023 mendatang sampai pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga baru di Manyar, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, beroperasi penuh pada 2024 mendatang.

Pihaknya beralasan, proses pembangunan smelter Manyar ini telah memiliki kemajuan signifikan. Sampai Maret 2023, proses pembangunan smelter ini telah mencapai sekitar 60%. Ditargetkan smelter ini bisa beroperasi pada Mei 2024 mendatang.

Adapun sempat tertundanya pembangunan smelter ini menurutnya karena terkendala pandemi Covid-19, sehingga tidak bisa tuntas pada 2023, terutama sebelum aturan larangan ekspor mineral mentah ini berlaku pada Juni 2023 mendatang.

“Dalam IUPK Freeport mengizinkan ekspor berlanjut selama 2023, tergantung pada pertimbangan keadaan kahar (force majeure). PTFI sedang bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk memperoleh persetujuan untuk kelanjutan ekspor sampai smelter Manyar dan PMR (Precious Metal Refinery yang memproduksi emas dan perak) telah beroperasi penuh,” ungkapnya dalam laporan Kinerja Q1 2023, dikutip Kamis (27/04/2023).

Pada Maret 2023, dia menyebut, Pemerintah Indonesia telah memverifikasi progres konstruksi smelter Manyar. Berdasarkan hasil verifikasi tersebut, progres kemajuan smelter Manyar disebutkan telah melebihi 50%, sehingga memungkinkan PTFI dibebaskan dari pembayaran bea keluar yang sebelumnya dikenakan sebesar 2,5%.

Adkerson menyebut, selama kuartal I 2023, belanja modal yang telah dikeluarkan PTFI untuk smelter Manyar dan PMR ini telah mencapai US$ 0,3 miliar dan untuk setahun pada 2023 ini diperkirakan biaya yang akan dikeluarkan bisa mencapai US$ 1,6 miliar.

Adapun total investasi untuk proyek smelter Manyar dan PMR ini mencapai US$ 3,4 miliar, terdiri dari investasi smelter Manyar sebesar US$ 3 miliar dan proyek PMR sebesar US$ 400 juta.

Proyek smelter Manyar akan mengolah 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun menjadi sekitar 600 ribu ton katoda tembaga per tahun. Sementara proyek PMR akan memproduksi emas dan perak. Kedua proyek ini diperkirakan akan beroperasi pada 2024.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*